Biaya Pajak Motor dan Cara Menghitungnya

 44393 views

Punya kendaraan bermotor tentunya harus dilengkapi dengan surat-surat kepemilikan dan tanda nomor kendaraan. (Surat Tanda Nomor Kendaraan) adalah bukti registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor yang berfungsi sebagai kelengkapan bermotor.

biaya pajak – www.ramadoni.com

 

Nah, sebagai warga negara yang baik, salah satu kewajiban yang harus dipenuhi adalah membayar pajak motor yang tertera dalam STNK. Namun sebelumnya, Anda harus mengetahui terlebih dahulu apakah pajak motor itu.

Pajak motor termasuk dalam pajak progresif. Pajak progresif sendiri ialah pajak yang pemungutannya sesuai dengan persentase yang meningkat sesuai dengan nilai objek pajak dan kuantitas atau jumlah dari objek pajak, dalam hal ini motor adalah objek pajaknya.

Terdapat dua pajak progresif, yakni Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Pajak motor termasuk di dalam Pajak Kendaraan Bermotor. Adapun persentase tarif pajak progresif motor sesuai dengan urutan kepemilikan kendaraan Anda adalah sebagai berikut.

Urutan Kepemilikan Kendaraan Persentase Tarif Pajak
Motor Pertama 1,5%
Motor Kedua 2%
Motor Ketiga 2,5%
Motor Keempat dan seterusnya 4%

 

Ada dua hal yang menjadi dasar pengenaan pajak motor, yaitu:

  • Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB). Ini bukan jual umum suatu kendaraan, melainkan nilai yang telah ditetapkan Dispenda yang didapatkan dari Agen Pemegang (APM).
  • Bobot maupun efek negatif yang bisa merefleksikan tingkat kerusakan jalan yang diakibatkan motor tersebut dan dinyatakan dalam koefisien yang nilainya satu atau lebih.

Lalu, bagaimana menghitung besaran pajak motor yang kita miliki? Caranya cukup mudah. Pertama, Anda harus mengetahui NJK motor Anda terlebih dahulu. Misalnya, Anda memiliki lima motor dengan dan tahun yang sama. Jika PKB diketahui Rp450.000 dan SWDKLLJ (sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan) dikenakan Rp50.000, maka untuk mengetahui pajak tiap motor, Anda harus menghitung NJK terlebih dulu, yaitu (PKB x 2/3 x 100) = Rp450.000 x 2/3 x 100 = Rp30.000.000.

  • Pajak untuk motor pertama adalah 1,5% x Rp30.000.000 = Rp450.000.
  • Pajak motor kedua : 2% x Rp30.000.000 = Rp600.000 (terjadi kenaikan).
  • Pajak motor ketiga : 2,5% x Rp30.000.000 = Rp750.000 (terjadi kenaikan).
  • Pajak motor keempat dst : 4% x Rp30.000.000 = Rp1.200.000 (terjadi kenaikan).

Meski bukan perkara yang mendesak, Anda memang sebaiknya membayar pajak motor tepat waktu. Pasalnya, jika terlambat, selain tunggakan akan menumpuk, Anda pun diwajibkan membayar denda pajak motor.

Jika akhirnya Anda harus membayar denda pajak motor, maka sebaiknya Anda harus tahu bagaimana cara menghitung denda pajak motor. Namun sebelum itu, Anda harus mengetahui terlebih dahulu istilah-istilah yang terkait dengan pajak motor.

  • BBN KB (Bea Balik Nama kendaraan bermotor), besarnya 10% dari harga kendaraan (off the road) atau harga faktur untuk kendaraan baru, dan (second) sebesar dua pertiga Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
  • PKB, besarnya 1,5% dari nilai jual kendaraan dan bersifat menurun tiap tahun, karena penyusutan nilai jual.
  • SWDKLLJ (sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan), sumbangan ini dikelola oleh Jasa Raharja.
  • BIAYA ADM (biaya administrasi), untuk kendaraan baru tidak dikenakan dan apabila ganti pelat nomor (5 tahun sekali) atau balik nama dikenai biaya administrasi.
  • Denda Pajak Kendaraan Bermotor , apabila jatuh tempo masa berlaku STNK belum melakukan perpanjangan maka akan dikenai denda PKB dan denda SWDKLLJ.

Sementara, untuk perhitungan denda PKB adalah sebagai berikut.

  • Perhitungan Denda PKB: 25 % per tahun.
  • Terlambat 3 bulan = PKB x 25% x 3/12.
  • Terlambat 6 bulan = PKB x 25% x 6/12.
  • Denda SWDKLLJ = besarnya Rp32.000 untuk roda 2.

Sebagai contoh, jika Anda punya dan terlambat bayar 6 bulan, sedangkan jumlah PKB yang tertera di STNK Rp232.000 dan SWDKLLJ Rp35.000. Maka penghitungan denda Anda adalah: (Rp232.000 (PKB) x 25% x 6/12 ) + Denda SWDKLLJ (Rp32.000) = Rp61.000.

   
Penulis: