Bisnis Modifikasi Sepeda Motor untuk Hobi Anak Muda

 2165 views

BERBAGAI event otomotif tanah air seringkali dimeriahkan dengan kontes . Bagi penghobi modifi kasi, ini merupakan ajang adu keren.

Tak tanggung-tanggung, para pecinta otomotif bisa mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk membuat motornya tampil beda. Tak jarang biaya lebih tinggi dibanding harga motornya.

“Rata-rata yang datang ke sini mengubah motor standar menjadi motor kontes. Jadi, motor diubah total dari mulai , cat, bodi hingga aksesorisnya,” kata pemilik Endoek Ceploek Modifi cation (ECM), Agung Ismanto yang menjadi salah satu jujukan penghobi modifikasi di .

Menurut Agung, besar biaya tergantung dari konsep, cat, hingga yang digunakan. yang harus diimpor dari luar negeri, tentu lebih mahal dibanding buatan lokal. Sebelum digarap, konsumen saya tawari ingin memakai cat atau dengan kualitas seperti apa dulu?. Soalnya harga lokal dengan (buatan) Th ailand, (harganya) bisa 1 banding 10,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Pria berusia 32 ini menuturkan, konsumen juga harus menjelaskan kontes kelas apa yang akan diikuti. Misalnya kelas funky, , aksesoris, airbrush, , atau /sticker. Hal itu penting mengingat dalam kontes ada aturan yang harus diikuti dan tiap kelas beda ketentuan. Kalau tidak sesuai aturan, poin penilaian berkurang bahkan bisa sampai kena diskualifikasi.

“Sebagus apapun kalau regulasinya nggak pas, ya jadi siasia. Padahal biaya untuk modif tidak sedikit dan pengerjaannya juga cukup lama. Paling cepat dua bulan dan paling lama bisa satu tahun,” tutur Agung yang hanya mau menerapkan satu konsep modifikasi pada satu motor saja. “Jadi tidak ada yang ngembarin,” tambahnya.

Salah satu kendala yang kadang menghambat proses modifikasi, kata Agung, adalah ketersediaan aksesoris yang diinginkan konsumen. Sebab tidak semua aksesoris tersedia di rumahnya, kadang ia harus pesan ke tempat lain sehingga penggarapan bisa lebih lama.

Salah satu motor yang lagi dimodifikasi Agung Ismanto di rumahnya

“Semua aksesoris harus memiliki fungsi, bukan hanya sebagai pajangan atau variasi saja karena itu bisa mengurangi poin,” ucap suami Vita Hermawati ini. Hingga kini, pelanggannya sudah tersebar di Indonesia. Bahkan ada yang datang dari Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa kota besar lainnya.

“Kadang motornya datang lebih dulu, tapi orangnya saja saya belum pernah ketemu. Pembayaran juga melalui transfer,” aku pria yang dulu hobi mengikuti drag race dan road race tahun 1995 sampai 2001 silam.

Saat ini, katanya, yang paling banyak diminati adalah modifikasi cat yang kemudian diaplikasikan dengan sticker cutting. “Kalau airbrush kan harus mengecat ulang kalau mau diubah. Sedangkan kalau main sticker cutting hanya tinggal dilepas stikernya dan diganti lagi yang baru. Biayanya pun tidak banyak,” urainya. (PUPUT PUSPITASARI/RadarMagelang)

   
Penulis: