Di awal era 2000-an, selain motor Jepang, kita juga kerap melihat motor buatan China bertebaran di jalanan Tanah Air. Tak cuma sepeda motor bebek, varian skuter matik buatan Negeri Tirai Bambu juga kerap melintas di jalan raya, salah satunya Sanex Hussar.
Skuter matik ini pertama kali dirilis di Indonesia di awal 2000-an. Selain Yamaha Mio, Sanex Hussar juga bisa dibilang sebagai salah satu pelopor skuter matik modern di Indonesia. Bersama Kymco, merek ini menjadi salah satu produsen asal China yang cukup sukses dalam hal penjualan di pasaran Tanah Air.
Secara tampilan, Sanex Hussar menggendong desain bodi yang mirip dengan motor-motor keluaran Eropa, terutama Italia. Model headlamp (lampu utama) skuter ini diklaim mirip dengan kepunyaan Aprilia RS-series. Begitu pula dengan bodi montok skuter ini. Sementara, model lampu belakang disebut mirip dengan milik Ducati Monster.
Meski bodi dan ban memiliki dimensi yang cukup kecil, namun secara keseluruhan, skuter ini tampil dengan bentuk yang gagah, unik, sekaligus eye catching. Dengan model seperti itu, Sanex Hussar pun cukup digemari konsumen otomotif di Indonesia. Bahkan, di Tanah Air, juga berdiri komunitas pencinta Sanex Hussar bernama JakMac.
Selain itu, hal unik lain yang ada pada tubuh Sanex Hussar adalah mesin yang digunakan. PT Sanex Qianjiang Motor International sengaja membekali skuter matik ini dengan mesin tipe 2-stroke, berkapasitas 100cc (tepatnya 97,3cc). Penggunaan mesin tipe 2-tak di tengah gempuran mesin 4-langkah pada waktu itu dianggap sebagai langkah berani, apalagi pada sepeda motor jenis skuter matik.
Yang jarang diketahui publik adalah Sanex pernah mengekspor skuter ini ke Taiwan sebanyak 24.000 unit pada pertengahan tahun 2005. Saat itu, proyek ini dibuat keroyokan yang terdiri dari PT Sanex Qianjiang Motor International, Qianjiang Cina, CPI Taiwan, dan Malaysia Lions Grup.
Namun sayangnya, usia Sanex Hussar di Tanah Air tak berlangsung lama meski sudah muncul komunitasnya. Mengusung mesin 2-stroke dianggap sebagai salah satu alasan kenapa motor ini gagal bersaing dengan skuter otomatis merek lain yang bertenaga mesin 4-tak. Kini, produk bekas skuter matik tersebut dijual dengan harga cuma sekitar Rp1,5 jutaan hingga Rp2,5 jutaan.






